Saturday, May 04, 2019

Meninggalkan Ibukota (Cirebon #1)


            Pagi itu, ibukota diselimuti awan kelabu. Mendung belum tentu hujan dan hujan belum tentu mendung. Gwa berangkat dari rumah pukul 6.30 WIB menuju Stasiun Pasar Senen, diperjalanan ayah mengajak untuk sarapan bubur ayam terlebih dulu. Sedikit cemas karena waktu telah mengarah 7.15 WIB, dengan perkiraan waktu menuju stasiun sekitar 15 menit. Berarti sampai di stasiun sekitar pukul 7.30 WIB itu pun bila tidak terjebak kemacetan ibukota. Bila sial menimpa entah sampai stasiun jam berapa, sedangkan kereta berangkat pukul 7. 35 WIB.

            Pasrah sajalah, pukul 7.25 WIB gwa terjebak macet lampu merah persis di satu perempatan jalan sebelum stasiun. Waktu terus berjalan, ayah mengingatkan gwa untuk menyiapkan kartu tanda pengenal dan juga tiket elektronik yang telah gwa pesan sebelumnya. Sesaat sampai dan berpamitan dengan ayah, gwa lari-lari kecil mencari mesin pencetak tiket yang entah gwa tidak tau dimana. Dan untung saja, gwa masuk rangkaian kereta tepat dengan bunyi pemberitahuan jikalau kereta di persilahkan berangkat membawa penumpang.

            Syukurlah… Jumat, 19 April 2019. Gwa melancong ke kota udang, Cirebon.

            Ini merupakan kali pertama gwa berpergian seorang diri ke luar kota. Tentu akan menjadi pengalaman menarik bagi hidup gwa.

            Sepanjang perjalanan gwa menatap ke arah jendela kereta terpesona dengan pemandangan yang disuguhkan oleh Tuhan YME. Hamparan sawah, pemukiman hingga sungai bearus deras sebab hujan yang mengguyur di hulu sungai. Dan kereta pun sampai di Cirebon sesuai jadwal, tetapi Dhea, seorang teman jauh gwa yang juga purna Jamnas X terlambat menjemput. Sehingga butuh beberapa lama untuk gwa menunggu.

            “bangjek lu dimana? gua udah di pintu keluar” ujar nya via panggilan suara

            “bentar.. gwa udah di luar, lu dimana?” Tanya gwa yang bingung mencari perempuan mungil khas kota Cirebon tersebut.

            Selangkah ingin mencari di pintu masuk, Dhea pun tertawa. Tanpa berpikir panjang gwa tau jika itulah ia yang ternyata sedari tadi duduk di motor yang terparkir persis di depan gwa berdiri. Maklum lah, ini baru kedua kali nya kami bertemu. Yang sebelumnya kami pernah ketemu di acara Raimuna Nasional setahun setelah Jamnas.

            Ia menawari gwa mencicipi empal gentong, makanan khas Cirebon. Tapi gwa menolaknya, ia juga menawari makan nasi jamblang yang terkenal dari Cirebon, dan gwa kembali menolaknya. “kerumah lu dulu aja” dalih pembicaraan gwa.

            Tak banyak hal yang gwa lakukan setelah sampai kediaman Dhea yang berada sedikit keluar dari kota Cirebon. Hanya duduk dan beradaptasi dengan suasana juga lingkungan yang baru kali pertama gwa datangi sambil menyeruput teh manis buatan ibu nya Dhea yang begitu ramah menerima kedatangan gwa.

            Sebenarnya, rencana awala itu gwa, Dhea, Adnan beserta beberapa temannya ingin mendaki gunung Ciremai. Namun karena ada suatu hal, pendakian pun dibatalkan. Adnan yang tadinya merubah jadwal jadi sekedar mengunjungi dan menyusuri tiap lokasi yang ada di Cirebon dan sekelilingnya juga tidak jadi. Alhasil seorang diri yang melanjutkan perjanan karena tiket yang sudah dibeli.

            Lanjut… Sore hari nya, Dhea ngajak gwa buat menghabisi sore di sawah yang berada tidak jauh di belakang rumah nya. Karena memang itu permintaan gwa kepadanya “Jangan bawa gwa ke tempat yang udah biasa orang datengin, bawa aja ke tempat yang nature sama sawah” karena, kapan lagi gwa bisa melihat sawah. Di Jakarta sudah sulit menemukan sawah yang kian lama tergantikan oleh gedung-gedung tinggi dan pemukiman yang semakin padat. Ketenangan di sawah menjadi hal yang gwa cari.

            Gak terasa hari mulai gelap, adzan magrib berkumandang. Kami pun kembali ke rumah Dhea untuk mandi dan istirahat sebelum esok hari nya gwa berburu tempat menarik bersama Dhea.

Saturday, March 23, 2019

Bedah MRT Jakarta : Bagian Kedua


            Mari kita bahas tentang stasium MRT.

            Dari 13 belas stasiun, enam stasiun diantara nya adalah stasiun bawah tanah seperti St. Bundaran HI, St. Dukuh Atas, St. Setiabudi, St. Bendungan Hilir, St. Istora dan St. Senayan. Untuk stasiun layang dimulai dari St. Sisingamangaraja, St. Blok M, St. Blok A, St. Haji Nawi, St. Cipete Raya, St. Fatmawati, dan stasiun terakhir Lebak Bulus.

            Untuk fasilitas pada area tiap stasiun tidak jauh berbeda, yang pertama ada nya tangga dan ekskalator. Untuk ekskalator gunakan bagian sebelah kanan untuk mendahului jika tidak terburu-buru lebih baik menggunakan bagaian sebelah kiri ekskalator. Selanjutnya ada kantor pelayanan untuk pelanggan, selain itu ada toilet umum, tempat ibadah, ruang ibu menyusui, dan juga ruang pertolongan pertama. Untuk stasiun bawah tanah terdapat penyejuk ruangan, sementara itu pada stasiun layang tidak terdapat penyejuk namun dioptimalkan dengan desain sirkulasi udara yang terbuka. Tak hanya itu, tiap stasiun juga terdapat public announcement dan juga papan elektronik yang menampilkan jadwal pemberangkatan kereta. Oh iya, untuk gerbang atau pintu masuk penumpang biasa itu berbeda dengan penumpang disabilitas pengguna kursi roda, yang mana pintu khusus kursi roda lebih besar dibandingkan pintu penumpang biasa.

            Dari tiga belas stasiun total ada 672 unit automatic sliding doors atau pintu geser otomatis, 168 pintu darurat dan juga ada 56 unit pintu khusus masinis.

            Untuk tiket bisa dibeli pada mesin tiket otomatis yang juga digunakan untuk isi ulang tiket. Tiket MRT sendiri ada dua, single trip untuk satu kali perjalanan dan juga multi trip yang bisa diisi ulang saldo tiketnya. Jangan takut tidak ada kembalian karena tiap mesin dilengkapi dengan tempat uang kembalian dan juga adanya tombol bantuan apabila kita tidak paham.

            Untuk membeli tiket pada ticket vanding machine begini caranya; pertama sentuh layar dan pilih jenis transaksi, lalu ikut petunjuk dilayar, masukan uang, ambil tiket, tanda bukti dan juga uang kembalian. Untuk isi ulang saldo juga tidak jauh berbeda dengan membeli tiket.

            Mungkin itu aja yang bisa gwa sampaikan ke teman-teman mengenai MRT Jakarta. Semoga moda transportasi terbaru ini beroperasi dengan lancar sehingga sedikit banyak dapat mengurangi kemacetan ibukota. Dan untuk teman-teman semua yuk kita jajal MRT dan gunakan moda transportasi publik lainnya untuk membantu pemerintah mengurangi macet. Makasih….

Refrensi : mrt.jakarta

Wednesday, March 20, 2019

Bedah MRT Jakarta : Bagian Pertama


            Mass Rapid Transit atau biasa kita sebut MRT akan menjadi salah satu moda transportasi yang akan digunakan masyarakat Jakarta nantinya. Proses pembangunan MRT pun hampir rampung dan rencananya akan di buka komersil dalam beberapa minggu ke depan. Namun sebelum itu, pihak MRT Jakarta telah melakukan serangkaian uji coba termasuk melakukan trial run yang dibuka untuk masyarakat umum.

            Nah, sebelum MRT Jakarta fase I (Bundaran HI – Lebak Bulus) di buka untuk komersil mari kita bedah MRT Jakarta.

            MRT Jakarta fase I (Bundaran HI – Lebak Bulus) hanya membutuhkan waktu lebih kurang tiga puluh menit, dengan melewati enam stasiun bawah tanah dan tujuh stasiun layang. Total jarak tempuh ialah 1.067 kilometer. Dengan total rangkaian kereta MRT yang berjumlah enam belas rangkaian dan tiap rangkaian dapat menampung sekitar 1.800 penumpang, setiap rangkaian terdiri dari enam gerbong kereta. Jam operasional MRT dimulai dari pukul 05.00 sampai 24.00 WIB dan rentang waktu antar kereta adalah 5 menit saat jam sibuk.

            Kereta MRT di produksi oleh Nippon Sharyo, yakni perusahan asal Jepang. Untuk dimensi nya adalah 20 x 2,9 x 3,9 meter (Panjang x Lebar x Tinggi) dengan dominansi warna biru dan juga abu-abu metalik. Badan kereta terbuat dari baja anti karat, dan jendela safety glasses yang menyerap panas. Untuk tempat duduk nya sendiri berukuran 43 x 42 cm yang terbuat dari fober reinforced plastic yang tahan api. Selain itu di tiap kereta juga terdapat pendingin ruangan, CCTV, bagasi yang terdapat diatas bangku prioritas, area kursi roda, pintu darurat, alat pemadam api dan lainnya.

            Untuk kecepatan maksimal kereta yakni 100 km/jam untuk di bawah tanah dan 80 km/jam di jalur layang. Kereta MRT merupakan automatic train operation.

            Mari kita bahas sedikit lebih detail. Panjang satu batang rel yaitu 20 dan 25 meter dengan lebar 1.067 mm. total lebih kurang ada 3.585 batangan rel yang mana batangan rel terbuat dari material campuran karbon (C), Mangan (Mn), Silikon (Si), Fosfor (P) dan juga belerang (S). Untuk beratnya sendiri tiap satu batang rel memiliki berat 1.300 kilogram (54,45 kg/meter). Total panjang rel lebih kurang 36.000 meter yang mana 30.000 meter merupakan jalur penumpang dan 6.000 meter ialah jalur depo yang berada di Lebak Bulus. Jumlah bantalan rel nya sendiri lebih kurang ada 52.300 buah, 26.000 buah untuk konstruksi jalur layang, 17.000 buah untuk konstruksi bawah tanah dan 9.300 buah untuk area depo.

            Sebelum membahas mengenai stasiun MRT, gwa coba kupas terlebih dulu mengenai layanan ramah disabilitas yang ada pada MRT Jakarta.

            Yang pertama, ada pintu masuk khusus penumpang disabilitas yang menggunakan kursi roda, selain itu ada juga lift untuk penumpang prioritas, ada juga toilet khusus penyandang disabilitas, pada lantai stasiun dipasang blok taktil yang mempermudah tuna netra. Memang apa saja sih yang dikategorikan penumpang prioritas? Yang pertama, lansia, cidera, ibu hamil, orang tua yang membawa anak kecil, dan juga penyandang disabilitas. Lalu untuk lokasi tempat duduk prioritas berada disudut tiap kereta.

Sunday, March 03, 2019

Belum Kenal Perempuan


            Semua ini berawal beberapa minggu yang lalu pada saat gwa masuk sekolah siang hari. ketika itu ibu-ibu saling bercengkrama sambil membeli sayuran pada tukang sayur keliling.

            “Iya.. Mas Jaka emang suka jalan kaki pulang sekolah sendirian aja” ucap si tukang sayur dengan suara khas jawa. “Belom kenal cewek, kayaknya tuh anak” lanjutnya

            “Emang gitu die mah, mending jalan dari pada ngeluarin duit buat bayar angkot” jawab ibu gwa.

            Gwa yang mendengarnya dari dalam rumah pun tersenyum sendiri sambil belajar untuk ulangan sejarah. Gwa pun membantah perkataan si tukang sayur, dalam hati gwa berkata “Jadi selama ini cewek yang gwa kenal tuh cewek jadi-jadian kah?”. Hehehehe…

            Temen gwa yang pernah ngerasain pesantren semasa SMP, sodara gwa yang lulusan pesantren. Yang “sholeh dan sholehah” toh tetep kenal cewek kok, bahkan pacaran. Walaupun kalo ketehuan ustad (guru-nya) bisa di hokum. Hehehehe…

            Gwa kenal banyak cewek kok, bahkan kontak di handphone gwa lebih banyak cewek daripada cowok. Karena gwa takut dibilang homo. Dan gwa berprinsip lebih baik di kata playboy dengan banyak kontak cewek daripada di bilang homo karena nyimpen banyak foto cowok “seksih”. Hehehehe…. Itu hanya candaan aja. Boleh di cek kok. Bukan homo! Hehehe..

            But, sebenarnya gwa tau maksud si tukang sayur. Dia mau bilang kalo gwa gak punya pacar. Dan itu benar, karena emang gwa belum mau pacaran dulu. Kalo alesan kebanyakan orang sih “mau fokus belajar dulu, ntar kalo udah sukses baru deh” termasuk gwa. Selain itu, gwa gak mau aja sia-siain masa putih abu-abu gwa hanya dengan sibuk mencari sensasi untuk memikat perempuan agar mau jadi pacar. Lebih baik gwa sibuk cari prestasi agar universitas tertarik dengan gwa. Asiik…

            Ada lagi sih, tapi jujur. Alasan yang ini entah mengapa gwa tuh malu.

            Gwa mau cari yang cocok dan gwa belum nemu yang cocok karena gwa mau jalin hubungan yang serius (peace).

            Dan alasan yang paling masuk akal adalah… karena gwa jelek. Hehehehe… bayangin aja, gwa kenal banyak cewek, punya kontaknya, tapi dari sekian banyak yang gwa kenal gak ada satu pun yang jadi pacar gwa. Sekali lagi, bukan karena gwa homo! Peace.

            Oke fix, tulisan ini emang bener-bener gak jelas. Karena sebenarnya gwa belakangan ini gak ada mood dan feel untuk nulis. Tapi pas tadi gwa buang air besar, ilham pun masuk ke jiwa gwa dan memberikan sebuah ide dari keresahan gwa yang di cap “belom kenal perempuan” sehingga gwa memutuskan untuk menuangkan ide itu pada karya tulis yang tidak jelas maksudnya ini. Mohon maaf kalo ada yang tersinggung, terutama barisan para mantan (gak ada hubunganya).

Wednesday, February 06, 2019

Bahagia Di bawah Rintik Hujan


            Kapan terakhir kali temen-temen main hujan? Mungkin jawabannya semasa kecil dulu. Ya.. ketika kecil dulu mungkin kita sering bermain air saat hujan mengguyur. Kenapa setelah dewasa kita tidak lagi bermain saat hujan mengguyur? Malu karena sudah besar, sepertinya itu jawaban terlaris. Lantas kenapa harus malu bila kita bahagia?

            Gwa lupa siapa yang berbicara tapi gwa masih ingat sampai sekarang.. “Hidup bukanlah untuk mencari kekayaan. Karena kita hidup itu untuk bahagia… percuma kalau saja Lo punya banyak duit dan harta yang berlimpah tapi hidup lo gak bahagia”.

            Sore tadi, hujan turun ketika gwa dan teman-teman semasa kecil sedang bermain bola dilapangan dekat rumah. Tanpa permisi, hujan langsung turun dengan deras, kami pun kocar-kacir mencari tempat berteduh. Tak menunggu lama, hujan pun mulai mereda

            “Ayok lah… lanjut maen (bola)” ajak gwa sambil memperhatikan awan gelap yang terus bergerak

            Bocah-bocah SD yang senang hujan mengguyur pun langsung mengiyakan ajakan gwa dan berlari ke tengah lapangan yang basah dengan sedikit genangan air. Namun Rafi dan Venus, teman  gwa yang kini berseragam putih abu-abu hanya diam dan melihat para bocah bermain air ditengah lapangan. Tidak lama kemudian, Gwa, Rafi dan Venus pun ikut main basah-basahan tanpa memikirkan rasa malu. Dan benar saja, ternyata hal seperti itu mengasyikan sampai-sampai kami tidak melanjutkan bermain bola karena larut dalam kebahagian yang lama gwa tidak rasakan bersama teman-teman.

            Hal seperti ini memang tidak mau gwa lewatkan begitu aja, karena banyak hal menarik yang kembali teringat pada masa kecil dulu. Apalagi kini, kami jarang sekali main bersama karena kesibukan sekolah dan aktivitas masing-masing lainnya. Dan juga ponsel pintar yang membuat orang lupa akan segalanya karena keasyikan dengan dunia maya sehingga menjadi kurang bersosialisasi dengna lingkungan sekitar kita.

            Semoga kebahagian bersama seperti itu masih bisa kita rasakan dilain waktu kawan.. kejarlah impian kita masing-masing namun, janganlah melupakan kawan mu yang dulu main hujan bersama tanpa rasa malu.

© KATABANGJAKA